Sabtu, 29 Agustus 2015

Kondisi Danau Toba

Danau Toba merupakan sebuah danau terbesar di Asia Tenggara dan termasuk danau terdalam di dunia. Danau Toba ini terletak di Provinsi Sumatera Utara yang berjarak ± 70 kilometer sebelah selatan Kota Medan. Danau Toba merupakan kawah dari gunung api vulkanik yang terbentuk dari letusan Gunung Toba yang merupakan letusan terbesar di dunia dalam 28 juta tahun terakhir, bahkan mungkin yang terbesar dalam sejarah bumi yang kita ketahui, sehingga Danau Toba ini merupakan danau vulkanik terbesar di dunia.

Danau Toba memiliki ukuran panjang mencapai 100 kilometer dan lebar 30 kilometer dengan titik terdalam 529 meter di sebelah Utara dekat Haranggaol. Luas perairan Danau Toba mencapai 1.130 km2, tidak termasuk Pulau Samosir yang memiliki luas 647 km2 dan pulau-pulau kecil lainnya. Tebing-tebing curam yang mengelilingi Danau Toba yang mencapai ketinggian 400 – 1.220 m ini diyakini sebagai bidang sesar saat terjadi pembentukan kawah vulkanik Toba akibat runtuhan pasca terjadinya letusan Gunung Toba.

Sungai yang berada disekitar kawasan sebagai sumber air Danau Toba
Danau Toba mendapatkan airnya dari sungai-sungai berukuran sedang dan kecil dengan luas wilayah aliran (catchment area) sebesar 3.700 km2. Disamping itu air juga berasal dari air hujan dengan curah hujan rata-rata 2.264 mm/tahun. Pengeluaran air Danau Toba terjadi di bagian selatannya melalui Sungai Asahan. Fluktuasi muka danau sat ini adalah 1,5 meter, tingkat keasaman air 7,0 – 8,4 pH, tingkat penguapan 15,8 cm/tahun, suhu air 25 0C dan suhu udara 19,1 – 21,2 0C (Hehanusa, 2000).

Hasil survey Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara bahwa tahun 2007 terdapat sebanyak 205 sungai yang bermuara ke Danau Toba dengan rincian sebanyak 63 sungai berasal dari Pulau Samosir dan 142 sungai berasal dari daratan Pulau Sumatera.  sebagian besar sungai yang bermuara ke Danau Toba adalah sungai yang bersifat intermitten, yaitu sungai yang hanya berair pada saat hujan saja. Karena banyakanya sungai yang hanya berair pada saat hujan, maka data yang lain menyebutkan bahwa jumlah sungai yang masuk ke Danau Toba adalah sebanyak 289 sungai. Sebanyak 112 sungai berasal dari Pulau Samosir dan catchment area lainnya sebanyak 177 sungai. Dari 289 sungai itu, 57 diantaranya mengalirkan air secara tetap dan sisa 232 sungai lagi adalah sungai musiman (intermitten).



Ketinggian air Danau Toba pernah mencapai 1.150 meter, namun saat ini  ketinggian air Danau Toba berada pada level 905 meter. Hal ini disebabkan air Danau Toba memotong lembah baru yang tersusun dari tuff (lapisan batuan yang terbentuk dari debu vulkanis yang terpadatkan) di bagian selatan danau dan bersatu dengan lembah Sungai Asahan (Van Bemmelen, 1949).

Di tengah Danau Toba ini terdapat sebuah pulau yang terkenal dengan nama Pulau Samosir. Pulau ini merupakan bagian puncak gunung api Toba yang ikut runtuh ke dalam kawah ketika terjadi pembentukan kawah Toba, kemudian terangkat kembali (resurgent cauldron). Pulau Samosir memiliki ukuran panjang 45 kilometer dan lebar 20 kilometer. Pulau ini merupakan semenanjung yang disambungkan oleh tanah genting (isthmus) sepanjang 200 meter dengan wilayah di sebelah barat Danau Toba. Tahun 1906 Belanda membangun kanal di tanah genting ini sehingga Samosir menjadi sebuah pulau.

Lokasi kanal yang dibangun belada di tanah genting (tano ponggol) 
Bagian timur Pulau Samosir sangat curam dengan kawasan pantai yang sempit dan langsung naik ke bukit-bukit Plato Samosir (plato: dataran tinggi luas dengan permukaan datar dan dikelilingi tebing yang curam) di bagian tengah pulau dengan titik tertinggi 780 meter di atas permukaan danau. Sedangkan ke arah barat dan selatan lereng plato terbilang landai. Plato Samosir hampir gersang dengan hutan-hutan kecil tersebar di beberapa tempat, rawa-rawa dan beberapa danau kecil, yang terbesar diantaranya bernama Danau Sidihoni. Danau Sidihoni terletak di Kecamatan Pangururan. Danau Sidihoni yang berada di Pulau Samosir ini disebut juga sebagai danau di atas danau. 

Danau Sidihoni 

Danau Sidihoni ini dimanfaatkan oleh sebagian besar penduduk sebagai sumber air, penambakan ikan dan untuk mengetahui musim kemarau. Terbatasnya sarana prasarana transportasi membuat obyek wisata ini jarang dikunjungi oleh wisatawan.

1 komentar: